Warisan Leluhur: Makna dan Tahapan Ritual Sepa Api Doko Masyarakat Langagedha

Warisan Leluhur: Makna dan Tahapan Ritual Sepa Api Doko Masyarakat Langagedha

Menurut Bapak Don Bawa, Sepa Api Doko bagi masyarakat Langagedha adalah sebuah ritual sakral yang telah ada sejak zaman leluhur, khususnya dari garis keturunan Sili Ana Wunga, dan terus dilaksanakan hingga sekarang. Ritual ini menjadi pembuka dari rangkaian upacara adat Reba yang dilaksanakan di Kabupaten Ngada.

Kesakralan ritual ini dirasakan secara nyata karena dalam setiap pelaksanaannya, masyarakat percaya bahwa Ebu Nusi (roh leluhur) hadir dan menyertai. Upacara ini dihormati karena diwariskan langsung oleh tokoh leluhur pertama yang datang ke wilayah Ngada, yaitu Sili, yang dikenal dengan sebutan Sili Ana Wunga da Nuka Pera Gua (anak sulung yang menunjukkan jalan). Sili menetap pertama kali di Desa Langagedha dan mengajarkan berbagai pengetahuan penting, mulai dari adat istiadat hingga cara bercocok tanam.

Tujuan Ritual Sepa Api Doko

Ritual ini memiliki tujuan utama, yaitu:

Mematikan hama (doko) yang merusak tanaman masyarakat. Melalui ritual ini, masyarakat memohon restu kepada leluhur agar perkebunan terhindar dari serangan hama dan menghasilkan panen yang melimpah untuk kebutuhan hidup.

Menandai dimulainya rangkaian adat Reba yang akan dilaksanakan di berbagai desa di Kabupaten Ngada.

Tahapan Ritual Sepa Api Doko

Upacara ini terdiri dari beberapa tahapan yang dilaksanakan secara berurutan:

1. Pembongkaran Sala Doko (Rae Sala Doko)

Tahapan awal dilakukan pada siang hari dengan membongkar sala doko lama, kemudian tumpukannya diletakkan di tengah kampung sebagai persiapan acara malam hari. Tahap ini hanya dilakukan oleh Mori Kepo Wesu.

2. Berangkat dari Rumah Adat (Bugu To’o Pu’u Dia Sa’o Meze)

Pada malam hari, Mori Kepo Wesu membawa seekor anak ayam, ke’o, dan sae lewa menuju kisa nata (tengah kampung). Sesampainya di sana, semua persembahan ditempatkan di belakang watu lengi (batu api), peninggalan leluhur.

3. Pembakaran Sala Doko (Tungi Sala Doko)

Setelah persembahan diletakkan, sala doko dinyalakan. Pada tahap ini ada aturan penting: tidak seorang pun boleh melanggar atau menyentuh kelapa persembahan selama prosesi berlangsung.

4. Ritual Sepa Api Doko (Adha Sepa Api Doko)

Ketika sala doko berubah menjadi arang membara, para tetua adat dan peserta ritual mulai berbaris. Mereka menyanyikan soka doko (nyanyian adat) sambil mengelilingi Ngadhu (simbol laki-laki) dan Bhaga (simbol perempuan) yang berada di tengah kampung.

5. Menendang Arang Api (Sepa Api Doko)

Ini adalah inti ritual yang melambangkan keberanian dan keperkasaan laki-laki Langagedha.

Tanpa alas kaki, peserta harus menendang dan menginjak arang membara hingga padam. Saat melakukannya, terdengar seruan adat:
“Bani gho bhai, bani ai bhai ai!”
(Berani atau tidak, ya atau tidak.)

Jika setelah upacara ada yang mengalami luka bakar, hal itu dipercaya sebagai tanda bahwa seseorang telah melanggar aturan adat dalam prosesi.

Sebagai penyembuhan, kelapa persembahan yang sebelumnya diletakkan dibelah, lalu:

Air kelapa diminum dan dioleskan pada kaki yang melepuh.

Sisanya dipercikkan kepada seluruh peserta sebagai penyucian (Gojo Mefi Folo Fa Moe Go Lengi Jawa).

Tempurung dan sabut kelapa kemudian digantung pada sala doko yang baru.

6. Ritual Penutup (Tima Ti’i Woso)

Tahap terakhir adalah ritual ungkapan syukur dan permohonan maaf kepada leluhur, terutama jika terjadi pelanggaran yang menyebabkan luka. Keyakinannya, setelah ritual ini, luka akan sembuh pada malam itu juga.


Sumber Foto: Kristina Maria B. Tao & Veronika Genua (Universitas Flores)

Contact Us
Langagedha, Nusa Tenggara Timur
langagedha@gmail.com
About Us

"Bata Langa" adalah website arsip budaya yang melestarikan kebudayaan Ngada, khususnya Desa Langagedha.