Menurut cerita yang dituturkan secara turun temurun oleh para orangtua di kampung Langagedha bahwa pada masa lampau dalam komunitas masyarakat adat Langagedha ada dua tokoh yang sangat berpengaruh yang bernama Ema Sepe dan Ema Wuda. Kedua tokoh ini merupakan saudara kandung dari suku Langa. Suku Langa merupakan salah satu suku terbesar yang mendiami di wilayah adat yang disebut Langa saat ini. Ema Sepe dan Ema Wuda tinggal di kampung Bo Sepe. Nama kampung Bosepe terdiri dari dua kata yakni Bo yang artinya kembang atau tunas yang baru, sedangkan Sepe adalah nama seorang tokoh terpandang dalam kampung itu.
Konon sebelum menempati kampung Bosepe para leluhur ini secara berkelompok datang dari arah barat yakni wilayah Lege Lapu, Tiwa Lina dan juga dari Mala Gisi. Mereka memilih hidup terpisah antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain hal ini dikarenakan kala itu belum adanya persatuan dan kesatuan antar kelompok. Pada masa itu sering terjadi perang antar suku. Salah satu penyebab terjadinya konflik antar suku adalah perebutan tanah untuk dijadikan tempat hunian. Ema Sepe dan adiknya Ema Wuda memilih bermukim di Bo Sepe karna tempatnya sangat strategis karna hampir semua sisi dari kampung ini dikelilingi jurang dan hanya memiliki satu pintu untuk masuk kedalam kampung. Salah satu tujuan pemilihan tempat untuk dijadikan kampung ialah agar kelompok masyarakatnya terhindar dari serangan musuh ataupun kelompok lain yang ingin menduduki wilayahnya.
Selain Ema Sepe dan adiknya Ema Wuda adapun saudaranya yang lain yang bernama Ema Ruwe Langa. Sa’o dari Ema Sepe dan Ema Wuda berada dalam kampung Bo Sepe sedangkan tempat tinggal dari Ema Ruwe Langa beserta anggota kelurganya terletak di Bata Nua (pintu masuk kampung). Dituturkan bahwa sebelum tinggal bersama anggota sukunya di kampung Bo Sepe Ema Ruwe Langa hidup dan menetap di wilayah Zeu yakni dataran rendah yang tanahnya subur dan berudara sejuk dekat perbatasan wilayah Nage. Keluarga Ema Ruwe Langa memutuskan pindah ke Langa untuk tinggal bersama kedua saudara kandungnya dikarenakan saat menetap di Zeu mereka terlibat peperangan melawan pihak Nge’o dan Tezi dari Woe Bolo yang bermarkas di Ola Bolo.
Setibanya dari dataran Zeu ke Bosepe Ema Ruwe Langa diberikan seekor babi oleh Ema Sepe untuk disembelih, namun babi pemberian dari saudaranya itu tidak ia potong tetapi dipelihara olehnya.
Hari berganti hari babi betina yang dipelihara oleh Ema Ruwe Langa telah bunting dan tinggal menunggu beberapa hari untuk beranak. Suatu petang saat sekembalinya dari ladang tempat mereka bekerja sudah menjadi kebiasaan dari Ema Ruwe Langa untuk memberi makan hewan peliharaannya itu. Saat saat akan memberi makan Ema Ruwe Langa terkejut karenai babi betina yang ditunggu tunggu saatnya untuk beranak tidak nampak dihadapannya. Ema Ruwe Langa berusaha mencari disekitar tempat mereka tinggal namun tidak menemukanya. Setelah melewati malam itu, keesokan harinya mereka melanjutkan kegiatan pencarian babi kesayangan itu hampir seharian penuh namun juga tak kunjung didapati. Dengan diselimuti rasa kecewa atas kehilangan babinya itu dalam hati ia berpasrah diri kalau babinya itu sudah diambil orang ataupun dimakan oleh hewan lainnya.
Beberapa hari kemudian disuatu pagi saat sedang menyiapkan diri serta peralatan kerja untuk dibawa ke ladang Ema Ruwe Langa mendengar ada suara yang tidak asing baginya. Dengan perlahan Ema Ruwe Langa mencari sumber suara itu, baru beberapa langkah ia keluar dari dari gubuknya ia meliahat babi betina yang hampir seminggu menghilang itu ada di samping tempat ia tinggal. Ema Ruwe Langa bergegas menghampiri babinya itu dengan rasa gembira. Seolah memberi isyarat bahwa dia sangat lapar babi betina yang muncul tiba tiba dengan kondisi perut yang sudah melangsing itu mengeluarkan suara pertanda meminta makan. Setelah diberi makan oleh tuannya babi yang pernah hilang dan telah kembali itu menghabiskan semua makanan dengan lahapnya. Saat babi betina itu makan Ema Ruwe Langa memperhatikan bagian dari perut babinya itu dan ia mengatakan “go ngana dia da dadhi gha kita komi la’a gae go sewo gazi” (babi ini sudah beranak kita tinggal mencari diamana sarang dan anak anaknya).
Setelah lambungnya terisi penuh dengan makanan yang diberikan tuannya babi betina itu seolah mau menguacapkan terimakasih dan juga ingin berpamitan kepada pemiliknya dengan cara menggosok gosokan badannya di kedua kaki Ema Ruwe Langa dengan manjanya. Semua yang melihat hal itu tersenyum akan kelakuan babi mereka.
Sebuah ide berlian muncul dibenaknya Ema Ruwe Langa. Ia menyuruh istrinya untuk mengambil awu bhara (abu dapur sisa pembakaran) dan oleh Ruwe Langa abu itu ditaburi dibagian punggung babi. Semua anggota keluarga yang melihat hal itu merekapun menjadi heran dan bertanya tanya untuk apa hal itu dilakukan oleh si kepala keluarga. Menjawab kebingungan dari saudara dan juga isrtinya ia berkata besok kita akan tau dimana babi kita ini bersarang serta keberadaan anak anknya.
Keesokan harinya saat matahari mulai terbit Ema Ruwe Langa membawa serta beberapa ekor anjing yang selalu menemani mereka saat berburu pergi untuk mencari tempat babi betina peliharaan mereka menyembunyikan anak anaknya. Ia menelusuri sepanjang lereng bukit pada sisi bagian timur dari kampung Bo Sepe. Semak belukar yang ditumbuhi ilalang maupun padatnya tumbuhan rotan yang padat ia lalui dengan berpedoman pada jejak kaki disertai butiran butiran abu dapur yang jatuh berceceran dari punggung babi disepanjang jalur yang dilewati oleh hewan peliharaan, akhirnya sampailah dia pada sebuah puncak bukit. Tak berapa lama beberapa ekor anjing yang ikut serta bersamanya mengendus sambil berlari kesana kemari pertanda menemukan sesuatu. Seekor anjing bergerak cepat menuju ke sebatang pohon albezia lokal yang bagian tengahnya sudah berlubang (kongo fai). Sembari bergongong dan mengibaskan ekornya ia memberi isyarat kepada kedua tuannya bahwa target yang mereka cari sudah ditemukan. Saat mendekati lubang pohon dan melihat isi dalam lubang itu ia terkejut dan merasa terbayar sudah kelelahannya sedari tadi pagi mencari babi kesayangannya. Ema Ruwe Langa sontak mengatakan “Ohh ngana ja’o eww kau leka de dadhi we dia” ( ohhh babiku ternyata disinilah engkau beranak). Sambil mengawasi beberapa ekor anjing yang masih berada didekat induk babi dan anaknya yang bersarang dalam pohon fai kedua kakak beradik mulai membersihkan area disekitar pohon. Setelah membersihkan tempat disekitarnya Ema Ruwe Langa berpikir sejenak bagaiman cara membawa pulang induk babi beserta anaknya itu ketempat tinggal mereka di Bo Sepe. Hari sudah hampir malam sedangkan jarak dari puncak bukit tempat babi brtinanya bersarang cukup jauh menuju tempat tinggal mereka dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Bo Sepe dengan tidak membawa serta babi babi itu. Setibanya di Bo Sepe, Ema Ruwe Langa menceritakan kepada anggota keluarganya bahwa babi betina milik mereka ada dipuncak bukit bersama beberapa anak anaknya dalam lubang sebatang kayu. Keesekaan harinya Ema Ruwe Langa membawa makanan untuk babinya di tempat ia bersarang. Kegiatan ini kemudian dilakukan setiap hari berhubung induk babi yang sedang menyusui pastinya membutuhkan asuapan agar bisa menyusui anak anaknya.
Demi menjaga babi yang bersarang di tempat itu Ema Ruwe Langa erinisiatif membuka lahan disekitar puncak bukit untuk dijadikan kebun. Dari hasil kebun mereka memperoleh bahan makanan untuk dimakan sekeluarga dan juga diberikan untuk hewan peliharaan mereka. Karna jarak yang begitu jauh dan membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama maka Ema Ruwe Langa mendirikan sebuah pondok agar ia bisa bermalam jika diperlukan.
Waktu terus berjalan hasil kebun semakin berlimpah serta hewan peliharaan semakin berkembang lalu Ema Ruwe Langa membawa serta anggota keluarganya untuk tinggal di puncak bukit. Suatu hari saat sedang membakar tumpukan rotan kering yang ia tebas disekitar pondoknya untuk dijadikan kebun, maka kepulan asap tebal yang naik ke udara dilihat oleh beberapa kelompok lain yang tinggal diseberang bukit. Melihat asap putih dari kejauhan orang orang berkata “ohh kena bodha nu api go Ruwe Langa” (ohhh itu pasti asap api dari kebunnya Ruwe Langa), lalu datanglah dua kelompok masyarakat adat yang bernama Woe Kutu dan Woe Sede. Setelah bertemu dan berdiskusi dengan Ruwe Langa mereka diajak untuk ikut tinggal bersama di wilayah itu mengingat tempat disekitar masih luas dan belum ada penghuninya. Ajakan Ruwe Langa diterima dan kedua kelompok bersepakat pindah ke tempat yang baru.
Dengan berjalannya waktu keturunan dari Ema Ruwe Langa bertambah banyak dan kebutuhan untuk makanpun tercukupi. Melihat keadaan tempat disekitar tempat tinggal mereka masih cukup luas Ema Ruwe Langa dan Ema Nede pergi ke Bo Sepe guna mengajak saudranya yang lain yakni Ema Sepe dan Ema wuda beserta sanak saudra merek untuk ikut pindah di lokasi yang baru sebap lokasi kampung Bo Sepe dikelilingi jurang sedangkan jumlah keluarga yang menghuni dalam kampung itu cukup banyak dan juga mereka sangat membutuhkan tempat yang luas. Setelah dipertimbanhkan dengan seksama akhirnya Ema Sepe dan Ema Wuda menyetujui ajakan Ema Ruwe Langa. Seiring waktu berjalan akhirnya sebuah kampung baru terbentuk di puncak bukit dengan nama kampung Langagedha. Nama Langa diambil dari salah satu kelompok masyarakat hukum adat yang mendiami wilayah ini, sedangkan gedha artinya puncak atau tempat yang lebih tinggi. Jadi Langagedha artinya Langa diatas ketinggiaan, dan memang kenyataannya bahwa kampung Langagedha berada pada tempat yang lebih tinggi dibanding dengan kampung kampung lain yang berada disekitarnya seperti kampung : Sabiwaja, Legewali, Radamude, Lengilina, Tiwalina, Lena Zi’a dan sebagainya.
Tahun terus berganti, dari masa ke masa membuat kampung Langagedha semakin padat serta penduduk kampung semakin bartambah banyak jumlahnya. Tatanan sosial yang telah terbentuk selalu dijalankan serta menjadi pedoman dalam kehidupan sehari hari. Sekitar belasan Sa’o adha yang berbaris rapih berjejer saling berhadapan dalam kampung yang membentang dari selatan ke utara dan ditengah kampung terdapat susunan batu batu ceper membentuk persegi panjang dan disalah satu sisi berdiri tegak beberapa batu lonjong yang kokoh dalam bahasa setempat menyebutnya watu lengi dimana diatas susunan batu ini para pemangku adat melakukan ritual adat tertentu dan fungsi lain juga sebagai tempat berkumpulnya para tokoh adat dalam bermusyawarah. Pada pelataran kampung berdiri tegak beberapa Ngadhu (tiang kurban), Bhaga (rumah induk asal) dan juga Peo yang merupakan simbol adat istiadat dari suatu komunitas masyarakat adat.
Letak Sa’o yang berdekatan dan juga seluruh bagian dari konstruksi rumah adat yang terbuat dari hasil hutan yakni kayu, alang-alang dan juga ijuk menjadikannya mudah terbakar. Hal ini terbukti sering terjadinya musibah kebakaran dalam sebuah kampung karena dengan mudahnya api merambat hampir seluruh isi kampung. Musibah yang paling ditakuti itu pernah menimpah kampung Langagedha, pasca terjadinya kebakaran yang menimpa kampung kesayangan warga masyarakat bergotongroyong membangun kembali kampung Langagedha.
Melihat keadaan kampung Langagedha yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditempati karena penduduknya kian bertambah dan tempat hunian semakin banyak maka pada Tahun 1957 pada masa kepemimpinan Bapak Klemens Kora sebagai Kepala Desa kala itu beliau berinisiatif untuk memindahkan kampung Langagedha. Setelah melakukan survey dan menemukan lokasi yang tepat, maka semua tetua adat bermusyawarah di sebuah Loka Tua untuk berunding perihal pemindahan kampung mereka ke lokasi yang baru yaitu ke dataran yang lebih rendah. Pada saat bermusyawarah ada juga beberapa tetua adat yang tidak menyetujui usulan pemindahan kampung dengan alasan bahwa mereka sudah merasa nyaman karna sudah sekian lama kita mendiami kampung ini dan selama kita hidup disisni semua aman aman saja lalu untuk apa kita harus pindah lagi ke tempat lain?. “Kita semua pasti tau bahwa proses pemindahan sebuah kampung tidaklah mudah karna kita membutuhkan anggaran dan tenaga yang cukup besar. Untuk itu kita harus mempertimbangkannya dengan baik”.
Musayawarah berjalan sangat alot karna sebagian tokoh adat sangat menyetujui usulan perpindaan kampung, namun ada juga sebagian orang yang masih mempertimbangkan usulan pemindahan kampung. Hari semakin sore karna sudah sedari tadi pagi setelah mereka mengikuti doa bersama di rumah agama yang terletak di Poma – Beja para tetua adat itu bermusyawarah. Sembari menikma tepung jagung, dedaunan segar serta tua bhara dan juga sui wu’u sebagai tolakan saat nalo bersama, maka bapak Klemens Kora selaku kepala desa yang ditunjuk secara aklamasi oleh masyarakat adat didalam kampungnya karna dianggap bijak dan merupakan seorang pekerja keras ia pun segera memberikan pengertian dan pandangan kepada para peserta musyawarah. “ Jadi begini masa ma ema ja’o, doa ja’o, ka’e, azi ja’o de penga moku meda dia kisa loka na… salah satu alasan yang mendasar bahwa kita harus segera pindahkan kampung Langagedha tercinta kita ini ke lokasi yang baru adalah kita saat ini sudah merdeka, kampung yang saat ini kita diami sudah penuh dan semakin sempit karna penduduk kampung semakin banyak. Pemerintah sudah mencanangkan program pembangunan dengan membuka jalan ke kampung kampung agar ada kemudahan akses transportasi. jika kita tetap tinggal dikampung ini maka suatu hari nanti anak cucu kita akan mengalami kesulitan dikarenakan kampung kita ini berada diatas ketinggian yang artinya kita tidak bisa membuka jalan masuk untuk alat transportasi ke kampung kita ini mengingat kondisi tanahnya yang miring dan cukup terjal. Selanjutnya letak sumber air sangat jauh dari kampung kita saat ini. Jika kita tetap memilih untuk tinggal disini mungkin saat ini kita merasa baik baik saja, namun kita melihat jauh kedepan untuk masa depan anak anak cucu kita kelak, dan bangsa kita pasti akan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman saat ini bahkan yang akan datang. Jadi untuk itu saya meminta kepada semua kita untuk ikut mempertimbangkan hal ini dengan ikut serta menyukseskan pemindahan kampung kita”.
Setelah mendengar arahan dari sang pemimpin serta orang yang dituakan dalam Kampung Langagedha itu hampir seluruh peserta musyawarah serentak terdiam dan menganggukan kepala seperti memberikan isyarat bahwa mereka sudah mengerti maksud dan tujuan pemindahan kampung serta menyepakati usulan pemindahan kampung. Sebelum menutupi kegiatan musyawarah dan nalo bersama sang kepala desa menyampaikan pesan kepada para tetua adat beserta semua yang hadir saat itu agar sekembalinya mereka ke sa’o teda masing-masing harap menyampaikan hasil musyawarah kapada semua anggota keluarganya.
Perintah serta usulan sang kepala desa beredar begitu cepat diseluruh warga kampung Langagedha maupun kampung-kampung disekitarnya. Mendengar informasi dan juga penjelasan tujuan pemindahan kampung ke tempat yang baru maka sebagian besar warga kampung menyetujui program pemindahan kampung.
Setelah melakukan pendekatan persuasif dengan beberapa orang sebagai pemilik tanah yang akan dijadikan lokasi kampung yang baru maka sebagai kepala desa dan juga para tetua adat bermusyawarah dan bernegosiasi dengan para pemiik tanah guna membicarakan tata letak kampung.
Setelah semuanya sepakat proses jual beli maupun tukar guling tempat berupa bidang tanah untuk dijadikan tempat rumah (la’e sa’o) maka pada Tahun 1959 Bapak Klemens Kora selaku kepala desa Langagedha dengan tekat yang kuat dan semangat yang tinggi mengerahkan semua warga kampungnya untuk segera memulai pembangunan rumah di lokasi yang baru dengan berasaskan semangat gotong royong.
Dengan berjalannya waktu alhasil secara perlahan wajah kampung Langagedha yang baru sudah mulai nampak. Rumah - rumah baru berupa sa’o dan juga Ke’ka yang kesemua materialnya berasal dari hasil hutan jenis kayu yang diambil disekitar kampung yang telah mereka tanami sejak puluhan tahun silam bahkan sebelum Negara Indonesia terbentuk dan memproklamirkan kemerdekaanya.
Nua Muzi (kampung baru) Langagedha membentang dari utara ke selatan membentul leter U dengan satu pintu masuk utama pada sisi utara menghadap kearah gunung Wolobobo serta bagian belakang kampung kearah laut Sawu – Aimere. Sedangkan pada sisi bagian timur dan barat ada sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan hidup warga kampung. Walau tidak dibekali dengan ilmu pengetahuan dan jasa para arsitek, namun para tukang ukir (mori weti) dan para tukang kayu (lima pade) mampu mengerjakan konstuksi rumah adat (Sa’o) yang sangat kokoh dan kuat serta tahan gempa. Letak Sa’o berjejer saling berhadapan memanjang pada sisi kiri dan kanan kampung. Pada bagian teras depan Sa’o (Teda mo’a) tiang-tiangnya berdiri tegak membentuk satu titik dan garis lurus sepanjang kampung. Pada bagian tengah kampung berdiri tegak Ngadhu dan Bhaga sebagai symbol kehadiran para leluhur. Ngadhu symbol kehadiran leluhur laki-laki (suami), Bhaga sebagai symbol leluhur perempuan (istri), Peo sebagai pendukung Ngadhu, Watu Lengi sebagai tempat bermusyawarah para tetua adat dan juga digunakan untuk ritual adat tertentu. Struktur kampung yang tertata rapih dan elok seakan didesain oleh para arsitek, semuanya itu berkat rancangan serta perintah sang pemimpin desa.
Kayu menjadi material utama dalam arsitektur interior rumah adat Sa’o. Beberapa jenis kayu khusus yang digunakan sebagai material Sa’o yakni : Johar (senna siamea) bahasa lokal kaju Dalu untuk tiang induk Sa’o (leke Sa’o), Sengon lokal (Albizia chinensis) bahasa lokal kaju Fay untuk papan digunakan sebagai dinding (Ube sa’o), Surian (Toona ciliate) bahasa lokal Kaju oja untuk dinding rumah adat (Ube sa’o), Pohon Lontar (Borassus flabellifer) nama lokal : Maghi untuk balok sebagai tiang pada sudut sa’o (Wisu) dan balok panjang sebagai dudukan dinding / Ube (Loki), Kelapa (Cocos nusifera) lokal : Nio digunakan untuk Wisu dan Loki, Bambu (bambbo) lokal Bheto untuk tiang penopang, lat pengunci, atap teras bagian luar (Teda mo’a), Ijuk enau lokal nao untuk pengikat pengganti tali, Rumbia / alang-alang lokal : Kerri sebagai atap.