Seghu Nao: Tali Adat yang Menyambung Leluhur, Alam, dan Generasi Masa Kini

Seghu Nao: Tali Adat yang Menyambung Leluhur, Alam, dan Generasi Masa Kini

Seghu nao adalah tradisi pemintalan tali ijuk yang dilakukan menggunakan bahan alami dari pohon aren. Bagi masyarakat adat Ngada, tradisi ini bukan sekadar proses teknis, tetapi sebuah warisan leluhur yang sarat nilai, simbol, dan filosofi hidup. Proses pemintalan seghu nao mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat adat memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Keterampilan ini diwariskan turun-temurun melalui praktik langsung dan pengajaran lisan dari generasi terdahulu. Dalam banyak kesempatan, seorang tetua adat akan mengajarkan teknik pemilahan serat, pemintalan, penarikan, hingga penguatan ikatan. Dengan demikian, seghu nao bukan hanya produk, melainkan sebuah proses pembelajaran budaya yang menjaga kesinambungan identitas orang Ngada.

Lebih dari sekadar tali, seghu nao memiliki makna simbolik yang kuat dalam struktur sosial dan spiritual masyarakat. Dua nilai utama yang terkandung di dalamnya antara lain:

Moe go aze nao da beta talo
(Kekuatan dan ketahanan) menggambarkan keteguhan hati, ketekunan, dan daya tahan seperti serat ijuk yang tidak mudah putus.

Moe go poli nao we kago ge Sa’o
(Melambangkan sikap mengayomi) mencerminkan peran pelindung, penyatu, dan penjaga kehidupan bersama dalam struktur Sa’o (rumah adat).

Dalam praktik adat Ngada, tali ijuk ini kerap digunakan dalam pembuatan Ngadu dan Bhaga dua elemen sakral yang melambangkan leluhur laki-laki (Ngadu) dan leluhur perempuan (Bhaga). Pada masyarakat Langagedha dan wilayah adat Ngada secara umum, bahan seghu nao dianggap wajib karena diyakini memiliki kekuatan kosmologis yang mengikat manusia dengan leluhur dan alam semesta.

Dalam perspektif budaya, kehadiran seghu nao menjadi simbol kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Melalui proses pembuatan tali ijuk ini, hubungan antar anggota masyarakat juga terbentuk gotong royong, kerja kolektif, dan penghormatan terhadap leluhur menjadi fondasi kuat yang terus diwariskan.

Hari ini, seghu nao bukan hanya identitas, tetapi juga bukti bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam pelestarian budaya sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Tradisi ini mengingatkan bahwa teknologi tradisional dan nilai-nilai nenek moyang tetap relevan dalam menghadapi dunia modern karena di dalam setiap helai ijuk terdapat cerita tentang ketangguhan, keterhubungan, dan kehidupan.

Contact Us
Langagedha, Nusa Tenggara Timur
langagedha@gmail.com
About Us

"Bata Langa" adalah website arsip budaya yang melestarikan kebudayaan Ngada, khususnya Desa Langagedha.