Siapa sangka makanan pokok yang sehari-hari kita konsumsi, atau dengan mudah kita temukan di pasar, memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat adat? Bagi masyarakat etnis Bajawa di Ngada, Nusa Tenggara Timur, pangan lokal adalah anugerah yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan biologis, melainkan sarat makna budaya.
Selain umbi-umbian atau uwi dan jagung, beras telah menjadi makanan yang digemari masyarakat. Walaupun uwi dan jagung tetap memiliki tempat khusus dan tidak tergantikan sepenuhnya, masyarakat Ngada kemudian mengenal padi, hingga pada akhirnya nasi menjadi salah satu makanan utama keluarga sekaligus menjadi bagian dari ritual adat untuk memberi makan leluhur. Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan diwariskan melalui tradisi, diantaranya melalui cerita rakyat tentang asal-usul padi. Cerita ini dikenal dengan nama “Ine Pare.”
Legenda Ine Pare
Pada zaman dahulu, nasi belum dikenal oleh masyarakat Ngada dan sekitarnya. Saat itu, makanan pokok mereka adalah sae lewa (sorgum) dan uwi (ubi). Ema Oba dan istrinya, Ine Ghena, beserta anak-anaknya tinggal di Malagisi. Keluarga Ema Oba dikaruniai lima orang anak yang terdiri dari tiga putra dan dua putri. Puteranya masing-masing bernama Teru, Tena, dan Nilu/Nage, sedangkan puterinya bernama Sina dan Pare.
Setelah sekian lama tinggal di Malagisi, akhirnya keluarga Ema Oba dan Ine Ghena memilih pindah untuk tinggal di Langagedha. Langa adalah nama salah satu suku/klan yang berdiam di pegunungan sekitar Gunung Inerie, sedangkan Gedha artinya puncak atau tempat yang paling tinggi.
Suatu hari, Ema Oba pergi mengunjungi taki uma (kebun) yang terletak di Malagisi, yang sebelumnya menjadi tempat tinggal mereka sekeluarga. Jika perjalanan seperti itu, Ema Oba biasanya meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama, diperkirakan sekitar satu sampai dua bulan. Waktu yang begitu lama disebabkan selain melihat dan memeriksa kebun beserta tanaman-tanaman yang ada di dalamnya, Ema Oba juga menyempatkan diri untuk mengunjungi sanak saudaranya yang telah menyebar dan menetap di beberapa tempat setelah mereka melakukan pengembaraan dari tempat asal mula mereka, yakni suatu tempat yang tidak diketahui dengan jelas namanya (pu'u zili giu gema).
Seperti pada waktu-waktu sebelumnya, Ema Oba pergi taki uma sampai ke wilayah yang disebut Aimere saat ini, sedangkan istrinya, Ine Ghena, tinggal di Kampung Langa Gedha bersama anak-anak mereka. Ketiga anak laki-lakinya kini sudah tumbuh dewasa. Teru dan Tena memiliki bakat untuk ghabo (berburu) di hutan, sedangkan Nilu lebih senang menyadap kaza tua (tuak). Sementara kedua putri mereka juga sudah bertumbuh dewasa dan memiliki paras yang cantik. Sina berkulit sangat putih bersih dan memiliki rambut lurus, hitam, dan panjang serta tidak pernah dibiarkan tergerai, kecuali dikonde. Pare, si anak bungsu, usianya dua tahun lebih muda dari kakaknya, Sina. Pare juga sangat cantik dengan tinggi badan semampai, kulit yang tidak lebih gelap dibandingkan kakaknya, dan rambut hitam panjang yang dibiarkan terurai bagaikan mayang karena usianya yang baru menjelang remaja.
Ketika Ema Oba sedang bepergian, suatu hari si bungsu Pare merengek pada Ine Ghena untuk ka bubu (makan nasi). Ine Ghena menjadi bingung karena wujud nasi yang diminta anaknya belum pernah mereka lihat. Sebagai ibu, ia menyuruh anak laki-lakinya pergi mencari ubi hutan, yakni ejo, yang merupakan jenis ubi paling manis dan enak. Teru dan Tena membawa ubi ejo itu dari hutan, namun Pare tetap menangis dan tidak mau makan.
Ine Ghena lalu meminta Teru dan Tena mengejar katta (ayam hutan) sebagai gantinya. Setelah hasil buruan kedua kakaknya dipanggang dan diberikan kepada adiknya, Pare tetap menangis dan menolaknya. Dengan sabar, Ine Ghena tak putus asa. Sebagai seorang ibu, ia tetap melayani permintaan putri bungsunya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang, apalagi Pare sangat dikasihi oleh Ema Oba. Kemudian Ine Ghena meminta Nilu pergi mengambil tuak manis untuk Pare, namun anak bungsu mereka tetap menolaknya. Sepanjang siang dan malam, Pare selalu saja menangis dan hanya mau meminta makan nasi.
“Ja'o mora bodha ka go maki!!!”
Karena terus menangis tanpa henti, akhirnya Pare jatuh sakit. Badannya menjadi kurus dan lemas. Ine Ghena menjadi sedih dan khawatir, sementara suaminya belum juga pulang ke Langagedha. Dalam keadaan sakit dan tubuh yang kurus kering, Pare tetap saja menangis.
“Oooh kau dia tuku da ngede go bhu bhale so'o le?”
(“Oooh kau ini jangan sampai bertanya sesuatu yang aneh karena dikuasai/dirasuki pengganti rupa?”), kata Ine Ghena mulai takut.
Karena prihatin dan sedih melihat keadaan putri bungsunya, Ine Ghena pun tidak bisa makan dan minum. Hampir setiap bulan Pare menangis terus, dan ketiga saudara laki-lakinya mulai marah.
“Kau dia tuku go bhu bhale, ngede go maki lo kita bha'i tuza mula na… kita dhomi latu go uwi…”
(“Kau ini tidak sampai ada wujud pengganti rupa, masa minta nasi yang tidak pernah kita tanam, padahal kita hanya mempunyai ubi”), kata Teru kepada adiknya.
Ine Ghena semakin sedih hatinya.
“Mali kau tau ghera moe dia, ine kita nenga olo mata nea…”
(“Jika kamu terus begini, maka mama kita akan cepat meninggalkan kita semua”), kata kakaknya, Tena.
Mendengar kalimat itu, Ine Ghena sangat terkejut.
"Ma'e lee! Miu ma'e mazi moe kena!"
(“Jangan! Kamu jangan bicara seperti itu!”)
“Ema wo bhai ngodho, kita dere say Ema de wado…”
(“Bapakmu belum juga datang, biar kita tunggu saja sampai bapak pulang”), jawab Ine Ghena mencoba meredakannya.
Waktu terus berlalu. Setelah menunggu berhari-hari, sang kepala keluarga tak kembali, sementara Pare dan Ine Ghena keadaannya semakin parah.
“Ay moe de kita wela nea gzi azi kita dia, mali bha'i ine nenga penga mata…” (“Bagaimana kalau kita bunuh saja adik kita ini, karena kalau tidak mama juga akan mati”), kata Teru berkompromi dengan adik-adiknya.
Malam itu, ketika Ine Ghena sedang tertidur pulas, Teru, Tena, dan Nilu segera menggendong Pare ke kebun di belakang rumah mereka. Di sana, saudara ketiga itu membunuh adik mereka yang sedang sakit dan tak berdaya. Untuk menghilangkan jejaknya, darahnya dicampur dengan tanah lalu disiramkan di sekeliling kebun. Demikian juga dengan tubuh Pare yang dicincang kecil-kecil lalu dicampurkan dengan tanah dan ditaburkan ke seluruh kebun milik mereka. Ine Ghena dan Sina tidak mengetahui apa yang dilakukan ketiga anak laki-lakinya karena mereka tertidur lelap.
Keesokan harinya, pagi-pagi buta, Teru dan Tena segera berangkat masuk ke hutan untuk berburu, sedangkan Nilu pergi ke Loka Tua (tempat berkumpul dan minum tuak) untuk menyadap tuak. Menjelang tengah hari, langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan hujan pun turun dengan sangat deras, seolah alam juga ikut berkabung atas kehilangan putri bungsu keluarga Ine Ghena dan Ema Oba.
Ine Ghena mulai mencari Pare ke segala arah, namun tidak menemukannya. Ia berpikir Pare mungkin bersama Nilu di Loka Tua, atau bersama Teru dan Tena ke hutan, karena hal ini sering dilakukan Pare sebelumnya. Ia tidak pernah menduga apa yang sebenarnya terjadi.
Sudah dua hari Teru, Tena, dan Nilu tidak pulang ke rumah, begitu juga Pare. Ine Ghena sangat cemas. Sementara itu, Ema Oba belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali. Suasana di rumah sangat sunyi, sedangkan kebun di belakang rumah, setelah hujan deras dua hari lalu, mulai ditumbuhi jenis rumput yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Sina sangat mengagumi keindahan rumput berwarna hijau dan halus itu.
“Ine, Ine! Bolehkah iso dia, pergi hanya apa ke'e dia na?”
(“Mama, mari lihat ini. Rumput jenis apa ini?”), teriak Sina.
Dengan cepat, Ine Ghena menyusul Sina ke kebun mereka. Ia juga terkejut melihat keindahan rumputan yang tumbuh merata di seluruh kebunnya. Hari itu, Sina tidak melanjutkan belajar meminta; ia lebih memilih bermain di kebun. Ketika berjalan di tengah kebun, rumput-rumput hijau itu menyentuh kulit kakinya dengan lembut.
Karena keasyikan, tak terasa hari menjelang sore. Tiga hari berikutnya, rumput aneh itu sudah mencapai pinggang Sina; daunnya makin hijau namun tetap lembut jika disentuh kulit. Rumput itu tumbuh begitu cepat dan batangnya sangat langsing.
Beberapa hari kemudian, bagian batangnya semakin tinggi dan membesar. Sina dan Ine Ghena terus memperhatikan perkembangan tanaman baru itu. Keesokan harinya, dari batang yang membesar itu muncullah mayang seperti rambut-rambut sangat halus, dan menjelang hari sakit muncullah bulir-bulir berbentuk aneh dalam jumlah sangat banyak, semuanya masih berwarna hijau.
Terpesona, Sina dan Ine Ghena setiap hari hanya berbincang tentang tanaman aneh itu. Yang lebih aneh lagi, sejak munculnya rumput itu, mereka mulai melupakan Pare, karena setiap kali berada di kebun, mereka merasa Pare ada di sana.
Ketika sedang asyik bercerita, muncullah tiga putera Ine Ghena. Mereka pulang membawa hasil buruan dan tuak. Menyambut kedatangan mereka, Sina dan Ine Ghena tidak bertanya di mana Pare, melainkan menarik mereka ke kebun.
“Iso si go mere dia, miu nga la'a ghabo ne la'a kaza tua go mere diana tebu dhano dia uma kita.”
(“Lihatlah ini! Setelah kalian pergi berburu dan menyadap tuak, rumput aneh ini tumbuh di kebun kita.”)
Mereka tidak pernah melihat jenis rumput ini sebelumnya. Ketiga saudara laki-laki itu saling berpandangan bingung. Mereka tidak berani menceritakan kejadian sebenarnya. Mereka menghilang beberapa hari untuk menghindari pertanyaan ibunya. Dalam hati mereka bertanya-tanya, “Mona ga'e go mere dia tuku go mae azi kami ne Pare so'o?”
(“Jangan-jangan rumput ini jelmaan adik kami Pare?”)
Namun mereka tetap diam, apalagi melihat kebahagiaan Ine Ghena dan Sina.
Sementara itu, bulir-bulir rumput mulai menguning. Ine Ghena memetik beberapa bulir lalu mengupas kulitnya. Ia terkejut karena isinya berwarna merah seperti darah. Ketika bekerja, rasanya sangat manis.
“Eeeh masa miu mungkin iso si dia!”
(“Eeeh, mari kalian lihat isi biji rumput ini!”), kata Ine Ghena.
Sina sangat gembira, sementara Teru, Tena, dan Nilu semakin yakin rumput itu adalah jelmaan Pare. Batangnya serupa tubuh Pare, mayangnya seperti rambut Pare, dan bijinya berwarna merah seperti darah Pare yang masih suci. Tanpa disadari, air mata Teru menitik membasahi bulir-bulir itu. Ia merasakan kehadiran Pare di antara indahnya rerumputan itu.
Ketika Teru kembali ke halaman rumah, tampak debu mengepul, pertanda Ema Oba telah pulang. Semuanya bisa dibayangkan. Ine Ghena tidak berani menceritakan hilangnya Pare. Sina bahkan tidak sabar ingin membawa ayahnya ke kebun.
Namun Ema Oba merasakan sesuatu yang ganjil. Biasanya, Pare-lah yang pertama menyambutnya.
“Hooo! Ala masa miu we dia, ala ana ja'o nee Pare we dee?”
(“Hooo! Kalian semua di sini, tetapi di mana anakku Pare?”)
Semua terdiam.
“De moe de sema dia, alla miu bhela bhete masa?”
(“Ada apa? Kenapa kalian semua diam?”)
Tidak ada yang menjawab. Sina langsung menarik tangan ayahnya menuju kebun.
Saat menyentuh tanaman itu, Ema Oba merasa sesuatu yang aneh lalu memanggil nama anaknya.
“Pare! Pare…!!”
“Oee Ema! Ja’o kita dia!!”
(“Iya bapak, saya ada di sini!!”), terdengar suara dari balik tanaman.
Suara itu adalah suara Pare. Tidak ada sosok di sana selain rerumputan berbulir yang menguning.
Tiga anak laki-lakinya akhirnya mengaku. Mendengar itu, Ine Ghena dan Sina merangkul batang-batang rumput itu sambil menangis.
“Tu'u leka, ne Pare da ngede go bhu-bhale…”
(“Ternyata benar, Pare meminta sesuatu yang aneh…”), kata Ine Ghena.
Rumput-rumput itu melambai seperti menari, seolah Pare tidak ingin keluarganya bersedih.
Ema Oba meminta semua kembali ke rumah untuk memutuskan langkah selanjutnya.
“Ja'o bodha we neku ana ja'o…”
(“Saya harus mengupacarakan anak saya Pare.”)
Ia membagi tugas:
“Robha ze'e Teru ne'e Tena miu gae go kaba mosa meze. Ine ne'e Sina la'a gee sa'o we jiru masa depan kita mungkin bisa meghe dia de neku ne Pare. Ala me Nilu kau la'a solu wali go tua mena loka.”
(“Besok pagi, Teru dan Tena pergi mencarikan seekor kerbau jantan besar. Ibu dan Sina mengajak semua orang kampung datang untuk makan bersama dan menghadiri upacara kematian Pare. Nilu pergi mengambil tuak.”)
Setelah semuanya siap, Nilu belum juga pulang. Kerbau jantan sudah terikat di tengah kampung pada tiang kurban (Ngadhu). Hari menjelang petang. Tiba-tiba, Nilu muncul di Bata Nua.
Orang-orang meneriakinya. Karena malu dan marah, ia mencabut parang dan menebas leher kerbau itu. Kerbau itu mengamuk dan berlari, menyeruduk semua yang dilihatnya. Orang-orang berteriak dan berpencar ke segala arah.
Konon, yang berteriak “kami bha'i” berlari ke utara dan menjadi kelompok etnis Ngada, sedangkan yang berteriak “kami mona” berlari ke selatan menuju timur dan menjadi kelompok etnis Nagekeo. Sementara yang berteriak “kami toee” berlari ke selatan menuju barat dan menjadi kelompok Riung hingga kini.
Editor : Anisah Rizki Fadika, Arnoldus Getto
Sumber : Arnoldus Getto